Rabu, 12 Juni 2013

Buku Pegangan Kurikulum 2013 Nantinya Dapat Diakses di Rumah Belajar

Filled under:


Jakarta --- Buku pegangan Kurikulum 2013 nantinya dapat juga diakses melalui laman Rumah Belajar dengan alamathttp://belajar.kemdikbud.go.id. "Naskah buku pegangan sudah siap, setelah nanti diserahkan ke percetakan, akan dipublikasikan juga di Rumah Belajar," ujar Kepala Unit Implementasi Kurikulum Pusat, Kemdikbud Tjipto Sumadi, di Jakarta, Senin (10/6/2013).

Dalam implementasi Kurikulum 2013 ini pemerintah akan mencetak buku dan membagikan secara gratis, sebanyak jumlah peserta didik sasaran implementasi. Buku pegangan terdiri dari buku pegangan untuk siswa dan buku pegangan guru dan naskah buku-buku tersebut telah selesai, kata Tjipto.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, untuk jenjang SD kelas 1 disiapkan sebanyak 10 buku untuk dua semester. Untuk kelas 1 ada sebanyak delapan buku tema ditambah dengan buku agama. Namun, buku yang dicetak saat ini baru untuk semester 1 sebanyak 5 buku masing-masing terdiri atas satu buku agama dan empat buku tema.
Adapun buku untuk jenjang SMP meliputi agama, PKN, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya, prakarya, bahasa Inggris, serta pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. Sementara untuk jenjang SMA ada sembilan mata pelajaran yang wajib, tetapi yang dicetak baru tiga mata pelajaran yaitu sejarah, bahasa Indonesia, dan matematika.
Terkait dengan dokumen Kurikulum 2013, Tjipto mengatakan bahwa segera setelah ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dapat dipublikasikan ke masyarakat luas. "Standar Isi Jumat (7/6) kemarin sudah ditandatangani BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan -red), dokumen Kurikulum 2013 segera akan dipublikasikan setelah ditandatangani Pak Menteri," ujar dosen Universitas Negeri Jakarta tersebut. (NW)

Posted By To Learn Information and Communication20.45

Kompetensi Supervisi Kepala Sekolah Masih Perlu Ditingkatkan

Filled under:

Yogyakarta -- Penelitian Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) mengenai kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah, hasil kerjasama pemerintah Indonesia, Australia, Eropa, dan Asian Development Bank, terhadap 4070 kepala sekolah di 55 kabupaten/kota dari tujuh provinsi di Indonesia, mengungkapkan supervisi adalah kompetensi terminim yang dimiliki kepala sekolah di Indonesia, dibandingkan dengan kompetensi lain.
Nilai tersebut adalah sebesar 3.00 dari skala 1.00-4.00, dengan nilai sebesar 4.00 untuk kompetensi lain. Adapun kompetensi kepala sekolah terdiri dari kompetensi kepribadian sebagai kepala sekolah, manajerial, kewirausahaan, mengajar, dan kompetensi memberikan penyuluhan terhadap guru. Ketujuh provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.
Akibatnya, penilaian, dan peningkatan terhadap kualitas belajar mengajar tidak dapat akurat dilakukan. Karena, kepala sekolah tidak melakukan pengawalan terhadap tugas harian guru. Demikian pernyataan tersebut disampaikan perwakilan pemerintah Australia John Pettit, saat membuka komisi pertama Konferensi Internasional Best Practice Bagi Pengembangan Kepemimpinan Kepala Sekolah (The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development), di Yogyakarta, Selasa kemarin (11/6).
Masih di waktu yang sama, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusa Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BPSDM dan PMP Kemdikbud), Syawal Gultom mengatakan perlunya diingatkan kembali para kepala sekolah untuk menjalankan tugas supervisi. Sehingga, kompetensi supervisi pun dapat ditingkatkan.
Menurut Syawal, penyebab kelemahan kompetensi supervisi berada pada perlakuan prioritas yang diberikan kepala sekolah, terhadap urusan bersifat administratif, dibandingkan dengan supervisi terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Kepala sekolah itu ya guru dengan tugas tambahan sebagai kepsek, maka kita kembalikan ke posisi awal harus bisa supervisi guru di sekolahnya,”ujar mantan rektor Universitas Negeri Medan itu.
Pada tingkat ASEAN, Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangtendik Kemdikbud) menggelar The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development, di Hotel Sahid Rich, Yogyakarta, dari tanggal 10-14 Juni 2013. Sebanyak 11 negara Asia Tenggara dengan total 120 orang peserta, yang terdiri dari 90 orang peserta dalam negeri, dan 30 orang peserta luar negeri berpartisipasi dalam perhelatan tahunan ini. Harapannya, para kepala sekolah dari perwakilan masing-masing negara dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan. Sehingga, tidak terdapat kesenjangan informasi mengenai supervisi antar negara partisipan. (GG)

Posted By To Learn Information and Communication20.42

Selasa, 04 Juni 2013

MODEL PEMBELAJARAN PROJECT WORK

Filled under:


                                         Oleh : Winarso Adi Sukarno - Widyaiswara PPPPTK BMTI 

(Referensi materi diklat Metoda Pengajaran Teknik dalam kerangka Implementasi Kurikulum 2013 pada Sekolah Menengah Kejuruan)


Kurikulum 2013 sempat menimbulkan polemik, pro dan kontra, sejak  memasuki uji publik, semua lapisan masyarakat bisa memberikan masukan dan pendapat untuk menyempurnakan kurikulum yang bakal menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku saat ini.
Perubahan kurikulum tersebut yang akan diberlakukan pada tahun ajaran 2013/2014 mendatang diharapkan akan memberikan perubahan pada model pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya, untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan mendorong siswa untuk aktif, siswa bukan lagi menjadi obyek tapi justru menjadi subyek dengan ikut mengembangkan tema yang ada. (Wamendikbud Bid. Kebudayaan)
Dasar Pemikiran Pengembangan Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah:
  1. Pengembangan kurikulum pendidikan menengah berbasis kompetensi.
  2. Jenjang pendidikan menengah merupakan satu kesatuan entitas pendidikan.
  3. Kurikulum melayani perbedaan minat peserta didik terhadap pendidikan menengah.
  4. Struktur kurikulum pendidikan menengah terdiri atas kelompok matapelajaran yang sama dan kelompok matapelajaran khusus untuk memenuhi minat peserta didik dan fungsi satuan pendidikan.
Bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) implementasi dasar pemikiran tersebut diantaranya dengan memadukan pendekatan Broad-based dan Competency-based Curriculum. Hasil perpaduan tersebut terutama diwujudkan dalam rancang bangun pengorganisasian materi atau substansi kurikulum secara berjenjang dan berkesinambungan dalam bentuk bidang studi keahlian, program studi keahlian, dan paket keahlian (peminatan).
Paket keahlian dirancang sebagai substansi pemelajaran pada tingkat akhir diharapkan dapat menjadi wahana belajar peserta didik untuk mengekspresikan kompetensi-kompetensi yang dikuasainya dalam bentuk unjuk kerja (performance) melaksanakan pekerjaan yang real job dannatural. Akhir dari pembelajaran paket keahlian pada hakikatnya peserta didik harus benar-benar dapat dinyatakan kompeten berdasarkan standar kompetensi yang berlaku.
Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competency-based training/CBT), diharapkan peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar yang dapat mengembangkan potensinya masing-masing untuk menguasai secara tuntas (mastery) tahap demi tahap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajarinya, bahkan secara konseptual dirancang sebagai wahana pembelajaran berbasis produksi (production-based training/PBT). Hal tersebut akan dapat terwujud nyata, jika sistem penilaian hasil belajar yang digunakan juga model penilaian berbasis kompetensi(Competency-based Assessment).

Posted By To Learn Information and Communication20.50

Polling Guru